Tahun 2015 adalah tahun yang penuh dengan dinamika. Pemerintah baru dengan sejumlah program unggulan baru memberikan harapan-harapan baru. Di sisi lain, tantangan demi tantangan masih menghadang, dan bukan merupakan hal yang mudah diatasi mengingat kondisinya yang sudah beruntun dan struktural. Seperti apa dan bagaimana prospek dari pada industri properti di tahun 2015?

Perkembangan dan pertumbuhan dari pada sektor properti selalu erat kaitannya dengan pergerakan perekonomian. Secara singkat dapat disebutkan bahwa bila perekonomian cerah maka properti akan juga cerah. Sebaliknya, bila prospek perekonomian suram, industri properti juga akan suram bahkan bisa jatuh lebih buruk lagi.

Mungkin sebagian pembaca masih ingat mengenai gejolak perekonomian Amerika saat kasus subprime mortgage terjadi di tahun 2007 dan 2008. Pemicunya adalah masalah keuangan dan properti. Karena itu, perekonomian Amerika telah terjerembab ke dalam krisis resesi yang terburuk sejak masa depresi besar pada tahun 1939. Indeks harga perumahan di Amerika tercatat sempat terpuruk turun sampai sekitar 70%. Krisis ini termasuk yang panjang, di mana setelah enam tahun sejak gejolak kasus subrprime mortgage tersebut barulah indikasi pemulihan ekonomi Amerika tampil. Itu pun, per saat ini, Amerika masih terpaksa mengenakan ultra low zone interest rate, sekitar 0,25%, sebagai upaya untuk bangkit dari krisis panjang tersebut.

 

Pertumbuhan Melemah vs Prospek

Bagaimana dengan Indonesia? Banyak dari kita yang mengetahui bahwa tahun politik 2014 yang lalu telah memberi tekanan kepada pertumbuhan ekonomi. Ekonomi Indonesia telah semakin melemah laju pertumbuhannya, dari sekitar 6,81% pada tahun 2010 menjadi sekitar 5% saja pada akhir 2014. Di sisi lain, kebijakan regulator otoritas moneter, Bank Indonesia, yang mengenakan sejumlah pembatasan terhadap pemberian KPR telah dapat meredam pertumbuhan KPR sehingga menahan juga pertumbuhan fantastis dari industri properti sebelum ini.

Untuk tahun 2015, agenda perekonomian tahun ini dan berikutnya akan ikut menentukan perkembangan dan pertumbuhan sektor properti di negeri ini. Baru-baru ini pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2015 sebesar 5,8%. Sejumlah pihak, baik pengamat dan akademisi, memandang taget ini sebagai terlalu optimis. Bank Indonesia sendiri menaruh perkiraan antara 5,4% – 5,8%. Sementara itu, World Bank mematok angka lebih konservatif sebesar 5,2% untuk akhir tahun ini.

Terlepas dari perbedaan angka proyeksi pertumbuhan, ada kesamaan di antara figur tersebut, yaitu semua pihak cenderung menilai ekonomi 2015 berpeluang bertumbuh lebih cepat dari tahun 2014. Dengan demikian, kita juga melihat ada prospek lebih baik dalam pertumbuhan industri properti dibandingan tahun lalu yang beberapa kali diwarnai dengan gunjang-ganjung gejolak pemilu dan sejumlah isyu setelahnya.

 

Infrastruktur dan Hilirisasi

Ada beberapa inisiatif pemerintah yang kiranya perlu dicermati karena diperkirakan akan dapat menaikkan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi serta akan memiliki dampak yang langsung kepada sektor properti. Inisiatif tersebut di antaranya adalah penggenjotan infrastruktur dan hilirasi pengembangan industri. Dalam APBN-P 2015 pemerintah disebutkan menaikkan anggaran infrastruktur sebesar Rp100 triliun, dari Rp190 menjadi Rp290 triliun. Pemangkasan subsidi BBM dimulai akhir tahun lalu telah memberikan ruang fiskal yang lebih leluasa untuk pembiayaan infrastruktur tersebut.

Pengembangan infrastruktur, di antaranya adalah untuk transportasi dan jalan, diperkirakan akan meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat setempat serta pada gilirannya menggairahkan pembangunan sektor properti. Misalnya saja, pembangunan jalan tol Trans-Sumatera. Dapat dibayangkan bagaimana akan terjadi efek multiplier terhadap proyek tersebut, termasuk di antaranya pengembangan perumahan dan industri di sepanjang jalur jalan tol tersebut.

Dalam ilmu pengembangan kawasan ada disebut mengenai “Axial theory”. Teori ini secara sederhana menjelaskan bahwa suatu kawasan atau kota dapat berkembang sejalan dengan pembangunan jalan raya dan jalur kereta api di daerah tersebut. Kita sudah lihat bagaimana pengembangan kota Jabodetabek –tidak ketinggalan industri propertinya- yang bergerak searah dengan pengembangan jalur transportasi yang ada, termasuk jalan tol dan kereta api.

Kita dapat prediksi pengembangan aktivitas dan kawasan properti sehubungan akan dibangun jalur kereta api Trans-Sumatera, Trans-Kalimantan, serta juga yang di Sulawesi dan Papua. Kita akan melihat sejumlah lompatan pertumbuhan kawasan properti karena dibangunnya delapan kawasan ekonomi khusus (KEK), di Sei Mangkei, Tanjung Lesung, Malloy Batuta Trans-Kalimantan, Bitung, Tanjung Api-Api, Mandalika, Palu dan Morotai. Kita akan perhatikan pengembangan yang terjadi dengan akan adanya ruas jalan tol Trans-Jawa, Tol Samarinda-Balikpapan, Manado-Bitung, juga pembangunan MRT di Jakarta.

Hilirisasi industri diharapkan akan memberikan terobosan terhadap pelemahan pertumbuhan industri di Indonesia selama beberapa tahun belakangan ini. Laju pertumbuhan investasi langsung di Indonesia, yang berdampak kepada pengembangun investasi industri pengolahan, telah merosot dari 8,2% di tahun 2011 menjadi 4,2% di tahun 2014. Dengan hilirisasi, sangat diharapkan adanya pertumbuhan tambahan di sektor industri pengolahan ini, yang akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi kawasan setempat tentunya. Pada sektor properti, setidaknya ini akan berdampak langsung kepada pertumbuhan segmen kawasan industri dan perkantoran. Kawasan industri, sebelum tahun politik 2014, sebenarnya telah bergerak bahkan lebih cepat dari segmen properti lainnya.

 

Prospektif

Menyimak kepada prospek perekonomian tersebut, berikut disampaikan perkiraan prospek di tahun 2015 untuk beberapa jenis properti. Acuannya ini terutama pada lokasi kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, atau beberapa ibu kota propinsi besar lainnya karena tidak bisa di-generalized sama untuk semua kawasan.

                                                                                            Sumber: Vibiz Research Center

Secara umum dapat disampaikan bahwa properti di Indonesia di tahun 2015 akan tetap prospektif sejalan dengan semakin menggeliatnya dinamika ekonomi Indonesia pada tahun ini. Kita harapkan tidak ada hambatan-hambatan non-ekonomi yang dapat mengganggu pertumbuhan bisnis dan properti nantinya, seperti kisruh isyu politik, keamanan, dll. Kita tetap oprtimis. Semoga saja demikian.


Alfred2_0

By Alfred Pakasi ,CEO Vibiz Counsulting
   Vibiz Consulting Group