Untuk menggairahkan roda perekonomian di Indonesia dengan meningkatkan  kinerja sektor property dan perbankan, Bank Indonesia (BI) hari ini memutuskan kembali memberikan stimulus pada kedua sektor ini dengan merevisi i aturan Loan to Value (LTV) atau Financing to Value (FTV) untuk kredit atau pembiayaan properti dan uang muka (down payment/DP) kredit kendaraan bermotor.

Dengan kebijakan baru ini maka diharapkan kemampuan bank menyalurkan kredit bertambah dan masyarakat juga diuntungkan karena tak harus menyediakan uang muka yang besar dalam melakukan kredit kendaraan bermotor. Revisi yang dilakukan yaitu  perubahan besaran rasio LTV untuk Kredit Properti (KP) dan rasio FTV untuk Kredit Properti (KP) Syariah. Selanjutnya peningkatan besaran rasio LTV/FTV mencapai 10%, dan berlaku pada Rumah Tapak (RT), Rumah Susun (RS) maupun Rumah Toko/ Rumah Kantor (Ruko/Rukan), mulai tipe 21 ke bawah hingga tipe 70 ke atas.

Perubahan selanjutnya terhadap ketentuan uang muka untuk kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor (KKB dan KKB Syariah) berlaku untuk kendaraan roda 2 dan roda 3 ke atas dimana kewajiban persentase uang muka ini diturunkan hingga 5% dari sebelumnya 30%. Selain pelonggaran rasio LTV dan uang muka, relaksasi kebijakan  juga dilakukan terhadap jaminan yang diserahkan developer kepada bank dalam pemberian kredit melalui mekanisme inden.  Dimana jaminan tersebut  berupa aset tetap, aset bergerak, bank guarantee, standby letter of credit dan/ atau dana yang dititipkan dan/ atau disimpan dalam escrow account di bank pemberi kredit/ pembiayaan.

Terhadap relaksasi kebijakan LTV, LTV untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Apartemen (KPA) dinaikkan masing-masing untuk rumah pertama, kedua dan ketiga 10%. Sedangkan untuk pembiayaan akad syariah MMQ dan IMBT, masing-masing 5%. Selanjutnya   untuk rumah tipe di atas 70, fasilitas KPR pertama LTV-nya menjadi 80%, naik 10%.

Untuk KPR rumah kedua dan ketiga naik 10%, masing-masing menjadi 70% dan 60%. Sementara untuk rumah tipe 22-70 fasilitas KPR pertama tidak ada, dan untuk KPR rumah kedua ketiga naik 10%, masing-masing menjadi 80% dan 70%. Sedangkan  untuk apartemen tipe sampai dengan 21, kepemilikan pertama tidak ada ketentuan LTV. Untuk kepemilikan kedua dan ketiga naik 10% masing-masing menjadi 80% dan 70%. Sedangkan tipe 22-70 untuk kepemilikan pertama kedua dan ketiga naik 10% masing-masing menjadi 90%, 80% dan 70%.

Dengan relaksasi kebijakan LTV/FTV ini diharapkan akan menggairahkan kembali minat konsumen terhadap  sektor property , karena dari kebijakan LTV pertama yang diterbitkan pada Juni 2012 pertumbuhan KPR masih melambat. Menurut data statistik perbankan  menunjukkan pertumbuhan KPR dan kredit pemilkan apartmen (KPA) pada 2011 mencapai 23,4%. Pertumbuhan ini naik menjadi 31,7% pada 2013. Namun, sejak pemberlakuan LTV pertama , pertumbuhan kredit mulai melambat, tercermin dari pertumbuhan tahunan sepanjang 2014 yang hanya 12,5%.

 

Sumber : www.vibiznews.com