Tidak dapat dipungkiri sektor real estate memainkan peranan yang besar dalam dinamika kota Jakarta, sebagai ibu kota Negara Indonesia. Kondisi pasar yang menguntungkan membuat Jakarta unggul menjadi salah satu lokasi utama yang dilirik untuk  investasi properti di Asia Tenggara, bahkan di dunia.

Penempatan Jakarta sebagai kota di Asia Pasifik yang berada diperingkat kedua sebagai destinasi investasi paling prospektif dan terfavorit oleh Urban Land Institute dan Pricewaterhouse Cooper (PwC), mendapatkan sejumlah alasan. Selain karena kondisi makroekonomi Indonesia yang mereka nilai sedang tumbuh pesat, juga karena pertumbuhan aset yang menguat dalam beberapa tahun terakhir.


Faktor-Faktor Keunggulan Jakarta

Memasuki tahun 2015 sektor properti memang akan tumbuh dan memiliki prospek yang cerah. Selain itu, terlihat berbagai proyek infrastruktur yang terus berkembang di Jakarta dan sekitarnya yang akan mendorong pertumbuhan properti tahun depan, diantaranya  pembangunan MRT, jalan tol, dan rute busway baru yang tentunya akan memberikan efek positif.

Selain itu, berdasarkan hasil riset 2015, Synthesis Development mencatat di Jakarta ada banyak faktor pendorong orang membeli hunian khususnya apartemen, dan yang paling banyak adalah investor. atau tujuan berinvestasi di properti, antara lain:
1. Sebelumnya menumpang di keluarga sebanyak 14% atau setara dengan 8.940 unit.
2. Sebelumnya tinggal bukan milik sendiri dan ingin punya tinggal sendiri 20% setara dengan 12.345 unit
3. Jumlah usia siap nikah setiap tahun 2% atau setara 1.491 unit
4. Status sosial naik kelas dari bawah ke kelas menengah 4% atau setara 2.743 unit
5. Investor dalam rangka investasi 60% setara 37.863 unit.

Data ini berdasarkan 3 golongan masyarakat, antara lain:
1. Penghasilan Rp 8 juta-40 juta/bulan dengan pengeluaran Rp 6 juta-30 juta/bulan
2. Penghasilan Rp 40 juta-100 juta, dengan pengeluaran Rp 30 juta-Rp 75 juta/bulan
3. Penghasilan lebih besar dari Rp 100 juta, dengan pengeluaran lebih dari Rp 75 juta/bulan.

Pelaku investor banyak yang memutar uangnya di sektor properti dengan membeli unit-unit properti secara besar-besaran termasuk diantaranya pada sektor apartemen. Berdasarkan hasil riset, sebanyak 60% pembeli atau konsumen apartemen di Jakarta adalah investor.


Harga Naik

Rating konsensus rerata perusahaan properti di Indonesia 4,32 skala pada skala 5 setara dengan rating kesepakatan pembelian. Di Amerika Serikat, angkanya menunjukkan 4,13 dan Tiongkok adalah 4,1. Saham dalam indeks properti Jakarta akan naik 14 persen selama 12 bulan ke depan.

Berdasarkan hasil survei BI, harga rumah baru di seluruh Indonesia juga kemungkinan naik 5,7 persen pada kuartal pertama tahun 2015, lebih tinggi dari tahun 2014. Menyusul adanya kenaikan 6,3 persen pada kuartal terakhir tahun yang sama.


Waktu Terbaik

Melalui rencana infrastruktur yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN-P) 2015 untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebesar Rp 290,3 triliun, untuk perusahaan properti setidaknya akan mendapat keuntungan.

Populasi Jakarta sendiri diperkirakan naik menjadi 12,5 juta pada tahun 2030, dengan jumlah saat ini adalah sekitar 9,7 juta. Ukuran populasi yang dikombinasikan dengan tingkat urbanisasi, akan membuat permintaan properti terus menguat.

Lahan bisnis properti yang semakin menjamur di Jakarta menunjukkan bahwa investor mempercayai Jakarta sebagai pusat bisnis dan menguntungkan.

Sumber : vibiznews.com