CLSA, independent brokerage & investment group, memperkirakan pasar properti terkenal Hong Kong akan tergelincir 8 persen kuartal ini, di atas 7,5 persen penurunan kuartal lalu.

Nicole Wong,  CLSA’s regional head of property research, mengatakan kepada CNBC bahwa kemerosotan harga properti akan memicu pemotongan harga oleh pengembang karena tawaran mereka untuk memikat pembeli.

Dengan penurunan harga dua digit persentase poin beberapa kuartal berturut-turut, pemerintah Hong Kong cenderung untuk mengangkat beberapa langkah menenangkan pasar properti yang telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir, kata Wong.

Sebagai salah satu pasar properti yang paling mahal di dunia ini, pemerintah Hong Kong telah berusaha untuk mengendalikan spekulasi di masa lalu melalui langkah-langkah termasuk menaikkan persyaratan down-payment dan menggandakan pajak materai atau transaksi properti yang dibayarkan oleh banyak pembeli, terutama non-permanen resident.

Sementara di Tiongkok, properti tampaknya akan berjalan dalam pertumbuhan lebih lanjut, setidaknya pada semester pertama tahun ini, kata analis. “Ini salah satu dari beberapa segmen di mana pemerintah dapat mendukung. Mereka akan mendukung dengan subsidi langsung, subsidi tidak langsung, pelonggaran moneter dan menjaganya di tingkat wajar dan stabil,” katanya.

Menjaga pasar properti memberikan kontribusi yang mantap untuk stabilitas keseluruhan pasar keuangan, mengurangi risiko sistematis untuk bank, tambah Wong.

Tahun lalu, harga perumahan di kota Tiongkok lapis pertama naik 17 persen. Tapi terbalik 2016 mungkin terbatas pada semester pertama, karena volume transaksi yang tertinggal kenaikan harga, mengurangi kemampuan, Wong mencatat.

 

Sumber : vibiznews.com